Minggu lalu saya menikmati makan malam bersama para mitra kerja di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sambil menanti pesanan ayam bakar tiba, salah satu mitra memperkenalkan saya dengan seorang pengusaha lokal yang memiliki rumah pribadi di Florida – Amerika Serikat. Cukup bangga juga mendengarnya, ada putra daerah yang mampu merambah properti di negeri Paman Sam. Sejak sekitar lima tahun yang lalu, membeli properti di AS menjadi hal yang sangat menguntungkan. Properti (terutama rumah tinggal) menjadi tidak bernilai, harganya murah banget. Kok bisa gitu? Itu semua karena kasus krisis Subprime Mortgage. Sebenarnya saya mau menjelaskan sendiri kasus itu dengan bahasa sendiri, tapi karena sudah ada tulisan yang menurut saya bagus, dan mampu menjelaskan dengan sangat baik, maka saya putuskan saja untuk mengutip karya Matt Mardana. Berikut ini penjelasannya.
Jumat, 24 Mei 2013
Kamis, 10 Januari 2013
Krisis Ekonomi Argentina (1999 – 2002)
Argentina merupakan negara di Amerika Latin yang kaya sumber daya alam, memiliki
sektor pertanian yang maju, dan industri yang beragam. Tahun 1980-an, negeri
asal Lionel Messi ini telah menimbun utang luar negeri yang sangat besar hingga
mengakibatkan hiperinflasi. Untuk mengatasi masalah hiperinflasi tersebut, pemerintah
Argentina mengambil beberapa langkah strategis seperti liberalisasi
perdagangan, deregulasi, dan privatisasi. Walau pun dengan kebijakan itu pada
mulanya tingkat inflasi berhasil diturunkan, namun krisis ekonomi yang melanda
Meksiko, Rusia, dan Brasil pada 1999 turut memberi imbas pada ekonomi Argentina.
Krisis ekonomi di Argentina yang berlangsung sepanjang tahun 1999 hingga 2002 merupakan krisis yang sangat mengerikan dan menimbulkan dampak buruk terhadap kehidupan warga Argentina.
Rabu, 14 Desember 2011
Krisis Rubel 1998
Pada pertengahan 1997, ekonomi Rusia menunjukkan sinyalemen peningkatan atau pertumbuhan yang positif. Namun tak lama kemudian, berbagai masalah mulai muncul. Dua pendadakan eksternal, yakni krisis finansial Asia serta penurunan permintaan minyak mentah dan logam non besi, turut mempengaruhi penurunan jumlah cadangan devisa Rusia. Krisis finansial yang melanda Rusia pada tahun 1998 dikenal dengan istilah Krisis Rubel (mata uang Rusia). Krisis tersebut mencapai puncaknya bertepatan dengan perayaan ulang tahun proklamasi Republik Indonesia, 17 Agustus 1998. Saat itu, pemerintah Rusia melakukan devaluasi Rubel dan menyatakan tak sanggup melunasi utang-utangnya. Penurunan produktivitas, penetapan nilai tukar rubel terhadap mata uang asing yang terlalu tinggi, dan defisit fiskal kronis diduga banyak pihak sebagai latar belakang terjadinya krisis Rusia. Selain itu, biaya ekonomi perang di Chechnya yang diperkirakan telah menghabiskan dana sebesar lima milyar dolar (belum termasuk biaya pembangunan kembali ekonomi Chechnya yang hancur berantakan) juga dituduh sebagai biang kerok terjadinya krisis keuangan di Rusia. Faktor apa yang sebenarnya menyebabkan terjadinya krisis finansial di Rusia pada 1998?
Sabtu, 19 November 2011
Krisis Moneter Asia 1997
Inilah krisis yang tidak akan pernah hilang dari
ingatan kita. Sungguh penderitaan yang nyata kita rasakan pada masa-masa
krismon 1997. Kata-kata yang masih terus menempel dalam ingatan saya hingga
saat ini adalah keluhan dari seorang kerabat yang hidup di bawah garis
kemiskinan, “Sekarang kita tidak mampu lagi membeli mi instant.” Jelas mereka
yang berpenghasilan Rp5.000,- per hari tak lagi mampu membeli bahan makanan
yang cukup untuk empat orang anggota keluarganya, sebab harga mi instant yang
biasanya hanya Rp300 tiba-tiba melonjak dahsyat menjadi Rp1.500,- per
bungkusnya. Saat itu, tidak hanya orang-orang yang tinggal di Indonesia saja
yang merasakan penderitaan akibat krisis ekonomi, tetapi mungkin hampir
sebagian besar warga Asia turut tersiksa. Krisis yang bermula dari Thailand ini
terus menjalar tak terbendung ke Korea Selatan, Malaysia, dan Indonesia.
Sementara negara yang tak terpengaruh dampak krisis Asia secara signifikan
adalah Brunei Darussalam, Singapura, dan Republik Rakyat Cina (RRC). Mengapa
ada negara yang menderita begitu parah tetapi ada juga negara yang tak tertular
krisis? Mari simak bersama..
Kamis, 17 November 2011
Krisis Peso di Meksiko 1994
Di awal tahun 1990-an, Meksiko
adalah negara dengan perekonomian yang sedang tumbuh dengan cukup baik. Hasil
ekspor sektor manufakturnya menyumbang hingga lebih dari dua per tiga total devisa
Meksiko. Nilai impor Meksiko meningkat tajam seiring adanya liberalisasi
perdagangan dari US$11 miliar pada 1987 menjadi US$48 miliar di tahun 1992. Tahun
1991 tercatat ada sekitar 137 ribu perusahaan manufaktur yang beroperasi di
Meksiko. Sektor manufaktur tumbuh pesat di Meksiko karena besarnya jumlah sumber
daya manusia terampil di sana, besarnya pangsa pasar konsumsi, serta rendahnya
biaya distribusi. Namun, pada bulan Desember 1994 terjadi devaluasi terhadap
nilai tukar peso secara tiba-tiba, dan dimulailah krisis ekonomi Meksiko yang
dikenal dengan istilah Krisis Peso Meksiko. Krisis terparah sepanjang sejarah
Meksiko itu mengakibatkan lebih dari 50% penduduknya jatuh ke jurang
kemiskinan. Apa yang menjadi penyebab krisis ekonomi di Meksiko tahun 90-an
tersebut?
Cekidot
Gan..
Minggu, 09 Oktober 2011
Black Monday 1987
Pada
14 hingga 19 Oktober 1987, indeks harga saham gabungan di bursa Amerika Serikat
(AS) jatuh hingga melampaui angka 30%. Senin, 19 Oktober 1987 menjadi puncak kejatuhan
pasar saham AS, hari itu kemudian dikenal dengan istilah Black Monday. Indeks Dow Jones Industrial
Average (DJIA) nyemplung hingga 508
poin, hingga lenyaplah 22,6% dari total nilainya. Sementara itu, indeks S&P
500 juga terjun dari 282,7 menjadi 225,06 poin (20.4%). Itulah gambaran salah
satu peristiwa kejatuhan terbesar yang pernah diderita Wall Street hanya dalam
satu hari saja. Banyak pihak yang mengemukakan asumsinya mengenai kejatuhan
tersebut. Ada yang bilang crash itu
terjadi karena penggunaan robot dalam transaksi perdagangan (dahulu istilahnya program trading atau computer trading), adanya perdagangan
produk derivatif, penaksiran harga dan nilai yang berlebihan (overvaluation), hilangnya likuiditas,
dan ada pula yang menganggap peristiwa itu terjadi karena psikologi pasar.
Lalu, manakah pendapat yang benar?
Jumat, 30 September 2011
Great Depression 1929
Rabu, 28 September 2011
Panic of 1907
Kali ini kita akan melihat kembali peristiwa krisis keuangan yang terjadi pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat. Peristiwa itu dikenal dengan istilah Panic of 1907, yakni krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat di mana bursa saham jatuh hingga mencapai angka 50% dari puncak tahun 1906. Kepanikan ini bermula dari kegagalan Otto Heinze untuk menggoreng (cornering) saham United Copper pada 17 Oktober 1907 yang menyebabkan Otto Heinze tidak dapat membayar utang-utangnya. Kegagalan ini menyebabkan bank tempat Otto Heinze menjaminkan saham United Copper yang dimilikinya, State Savings Bank of Butte Montana mengumumkan kebangkrutannya. Bank Montana ini adalah milik F. Augustus Heinze, saudaranya Otto. Kepanikan segera menular ke Mercantile Bank karena bank ini merupakan bank korespondensi dari Bank Montana.
Senin, 02 Mei 2011
South Sea Bubble 1720
Abad ke-18 adalah masa kejayaan Inggris Raya. Pada abad ini, Inggris Raya merupakan negara besar yang koloninya tersebar di seluruh penjuru dunia. Kejayaan dan kemakmuran itu ibarat gadis cantik yang memikat semua pria untuk melakukan apa saja demi mendapatkan cinta sang gadis. Kemakmuran telah memancing Pemerintah Inggris untuk melakukan apa pun. Mereka menjadi pendukung ideologi 3H, “Halal, Haram, Hantam”. Termasuk berutang. Pemerintah Inggris berani berutang karena yakin kemakmuran itu akan langgeng sehingga nekat berutang dalam jumlah besar tanpa memperhitungkan risiko. Tak tanggung-tanggung, Pemerintah Inggris nekat ngutang alias minjam duit ke South Sea Company (SSC), perusahaan di Inggris yang bergerak di bidang perdagangan budak. Komoditas utama perusahaan ini adalah budak yang diimpor dari Afrika Barat dan kemudian dijual ke Amerika Selatan. Adakah dampak buruk mental dan perilaku ngutang pemerintah Inggris ini terhadap perekonomian masyarakatnya?
Minggu, 03 April 2011
Tulip Mania 1637
Alphard hitam kinclong yang masih gres itu baru saja berhenti di halaman rumah Opa Pandjaitan. Opa sudah tau kalau yang akan turun dari mobil itu adalah kedua cucu kesayangannya: Jack dan Rasya, sebab malam kemarin Jack mengirim pesan singkat ke hape Opa, "Opa, besok jam 3 sore Kami maen ksana."
Setelah turun dari mobil, Jack dan Rasya langsung berjalan ke arah Opa berdiri dan mencium tangan Opa.
"Apa kabar Opa? Lama ga maen ke sini jadi kangen sama Opa," sapa Rasya dengan hangat.
"Iya, Opa juga kangen sama kalian," kata Opa sambil memberikan senyuman khasnya.
"Opa cerita lagi dong, kami sudah ga sabar ingin dengar cerita pengalaman Opa," pinta Jack dengan muka sedikit memelas.
Langganan:
Entri (Atom)















